Rabu, 22 Mei 2013

Kerajaan Kerajaan di Indonesia




Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur
Th.400 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang pertama : Kudungga

Kerajaan Tarumanegara di jawa Barat
Th.500 M (Kerajaan Hindu)
Raja Yang Terkenal : Purnawarman

Kerajaan Kalingga di Jepara (Jawa Tengah)
Th,640 M (kerajaan Budha)
Raja yang terkenal : Ratu Shima

Kerajaan Mataram di Jawa tengah
Th.732 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang terkenal : Balitung

Kerajaan Sriwijaya di Palembang
Abad VII (kerajaan Budha)
Raja Pertama : Sri Jayanaga
Raja yang Terkenal : Balaputra Dewa

Kerajaan Medang di jawa Timur
Abad IX (Kerajaan Hindu)
Raja yang terkenal : Empu Sendok

Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur
Th.1073 M (kerajaan Hindu)
Raja Yang Pertama dan Terkenal : Airlangga

Kerajaan Kediri di Tepi S.Brantas Jawa Timur
Abad XII (kerajaan Hindu)
Raja Yang Terkenal : Jaya Baya

Kerajaan Singasari di jawa Timur
Th. 1222-1292 M
Raja Yang Pertama : Sri Rajasa (ken Arok)
Raja Yang Terkenal : Kartanegara(Joko Dolok)

Kerajaan Majapahit di delta Brantas
Th. 1293-1520 (Kerajaan Hindu)
Raja Yang Pertama : R. Wijaya
Raja  yang Terkenal : Hayam Wuruk
Patih Yang Terkenal : Gajah Mada

Kerajaan Pajajaran di Priangan (jabar)
Raja Yang Pertama : Sri Baduga Maharaja
Raja Yang Terkenal : Prabu Sedah

Kerajaan Demak di Jawa Tengah
Raja yang Pertama : Raden Patah (Sultan Bontoro)
Raja Yang Terkenal : Sultan Trenggono


Kerajaan Pajang di sebelah barat Surakarta
Th. 1568-1586 (Kerajaan Islam)
Raja Yang Pertama : Joko Tingkir ( S. Hadiwijoyo)
Raja Yang Terkenal : Ario Pangiri

Kerajaan Mataram islam di kota Gede (Yogyakarta)
Raja Yang Pertama : Sutawijaya (panembahan Senopati)
Raja Yang terkenal : Sultan Ageng

Kerajaan Banten di Jawa Barat
Th. 1556-1580 (Kerajaan Islam)
Raja Yang Pertama : Hasanudin
Raja Yang Terkenal : Sultan Agung





Candi Candi di Indonesia
Candi Borobudur
Candi Boroubudur, dimana candi pernah masuk sebagai 7 keajaiban dunia. Candi yang dibangun pada masa kerajaan dinasti Syeilendra.Terletak di desa bernama Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.Kita bisa ke desa Borobudur dari Yogyakarta menggunakan kendaraan dengan jarak tempu sekitar 1 jam. Candi ini disusun dengan menggunakan balok batu beserta design arsitektur yang luar biasa megah, susunan relief atau patung-patung yang mengelilingi candi. Candi termasuk candi Budha terbesar di dunia.
Candi Prambanan
Candi Prambanan salah satu candi yang terbesar agama Hindu.terletak di 13km arah Klaten, dan 17km dari arah Yogyakarta. Kompleks Candi Prambanan mempunyai 3 halaman, yaitu halaman pertama berdenah bujur sangkar, merupakan halaman paling suci karena halaman tersebut terdapat 3 candi utama (Siwa, Wisnu, Brahma), 3 candi perwara, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi sudut/patok. Halaman kedua juga berdenah bujur sangkar, letaknya lebih rendah dari halaman pertama. Pada halaman ini terdapat 224 buah candi perwara yang disusun atas 4 deret dengan perbandingan jumlah 68, 60, 52, dan 44 candi. Susunan demikian membentuk susunan yang konsentris menuju halaman pusat.
Candi Mendut
Candi Mendut terletak 3km dari arah borobudur, candi yang berlatarbelakang agama Budha ini terletak di desa mendut. Candi mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syeleindra.Dibangun pada tahun 824 Masehi.Candi ini lebih tua dari Candi Borobudur.Arsitekturnya persegi empat dan mempunyai pintu masuk di atas tangganya.Atapnya juga persegi empat dan bertingkat-tingkat, ada stupa di atasnya.didalam candi mendut terdapat 3 patung besar :
Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma.
Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia
Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya, Vajrapani.Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan.
Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan
Candi Muara Takus
candi yang berada di daerah Riau Sumatra Barat, candi agama Budha ini tepatnya terletak di daerah muara takus Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, Riau. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan. Umat Budha setempat bersembahyang rutin di candi itu.Sejak beberapa tahun belakang ini, candi tersebut dijadikan sebagai lokasi upacara peringatan hari suci Waisak.Masyarakat non-Budha, termasuk dari luar Provinsi Riau, banyak yang berwisata ke candi ini. Gugusan candi dikelilingi tembok setinggi satu meter seluas berukuran 74 x 74 meter. Setelah masuk ke kompleks candi, segera nampak keunikan lainnya. Candi-candi di sana, seperti juga candi di Muaro Jambi dan di kawasan Padanglawas Utara, Sumatera Utara, dibangun dengan batu bata merah, bukan batu andesit seperti kebanyakan candi di Jawa.
Candi Sewu
Candi Sewu merupakan candi budha yang berada dalam kompleks candi prambanan.Candi Sewu di bangun pada saat masa kerjaan Matraman Kuno oleh Raja Pakai Panangkarang (746 – 784).Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur. Menurut legenda rakyat setempat, seluruh candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama, Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam saja, sebagai prasyarat untuk bisa memperistri dewi Roro Jonggrang. Namun keinginannya itu gagal karena pada saat fajar menyingsing, jumlahnya masih kurang satu.
Candi Brahu
Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.Brahu merupakan lokasi Ngaben (pembakaran mayat) era kerjaan Majapahit.Nama Brahu di dapat dari sebutan untuk bangunan suci seperti disebutkan dalam prasasti Alasantan, yang tidak jauh ditemukan dari candi brahu. Candi Brahu dibangun dengan menggunakan batu bata sebagai bahan utamanya, dengan  panjang sekitar 18 meter, lebar  22,5 meter, dan tinggi 20 meter. Dari pintu masuk ke ruang bilik Candi yang terletak di sisi barat dapatlah diketahui bahwa Candi Brahu menghadap Kearah barat. Di sekitar Candi Brahu banyak terdapat temuan  Candi-candi kecil yang sebagian sudah runtuh, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar Candi, banyak ditemukan benda-benda kuno seperti alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca, dan lainnya.
Candi Banyunibo
Candi Banyunibo yang berarti air jatuh, adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah timur dari kota Yogyakarta ke arah kota Wonosari. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno.Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha.Keadaan dari candi ini terlihat masih cukup kokoh dan utuh dengan ukiran relief kala-makara dan bentuk relief lainnya yang masih nampak sangat jelas.Candi yang mempunyai bagian ruangan tengah ini pertama kali ditemukan dan diperbaiki kembali pada tahun 1940-an, dan sekarang berada di tengah wilayah persawahan.
Candi Ngawen
Candi Ngawen adalah candi Buddha yang berada kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Magelang.Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah yang tersebut dalam prasasti Karang Tengah pada tahun 824 M. Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya.Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.
Candi Lumbung
candi lumbung Disebut Candi Lumbung karena bentuk candi ini menyerupai lumbung padi. Berbeda dengan Candi Prambanan yang merupakan Candi Hindu, Candi Lumbung  ini merupakan candi Budha. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.Candi Lumbung terdiri dari sebuah candi induk yang dikelilingi oleh 16 buah candi kecil (Candi Perwara) yang keadaannya masih relatif baik.Adalah candi yang berada di dalam kompleks Taman wisata Candi Prambanan, tepatnya berada di sebelah Candi Bubrah.Jaraknya dari Candi Prambanan adalah sekitar 500 meter ke arah utara.Dari Kota Klaten jaraknya kurang lebih 15 km ke arah barat.
Candi Cetho
Candi Cetho merupakan sebuah candi bercorak agama hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke 15). Candi Cetho terletak di dukuh cetho, desa gumeng, kecamatan jenawi, kabupaten karanganyar. Konon nama Cetho, yang dalam bahasa Jawa berarti jelas, digunakan sebagai nama dusun tempat candi ini berada karena dari Dusun Cetho orang dapat dengan jelas ke berbagai arah. Ke arah utara terlihat pemandangan Karanganyar dan Kota Solo dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Merapi serta, lebih jauh lagi, puncak Gunung Sumbing.Ke arah barat dan timur terlihat bukit-bukit hijau membentang, sedangkan ke arah selatan terlihat punggung dan anak-anak Gunung lawu.Candi Cetho merupakan kelompok bangunan yang terdiri atas 11 berundak yang membentang arah timur – barat.
Upacara Upacara Adar di Indonesia
Ritual tiwah – Kalimantan Tengah
Ritual Tiwah adalah prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama Sandung. Ritual Tiwah dijadikan objek wisata karena unik dan khas. Banyak para wisatawan mancanegara tertarik pada upacara ini yang hanya di lakukan oleh warga Dayak Kalteng
Kebo keboan – Banyuwangi
Prosesi upacara adat Kebo-keboan dilaksanakan setiap tahun oleh warga Desa Alasmalang.Awalnya upacara adat ini dilaksanakan untuk memohon turunya hujan saat kemarau panjang.Dengan turunnya hujan berarti petani dapat segera bercocok tanam.
Puncak prosesi adalah membajak sawah dan menanam bibit padi di persawahan.Orang-orang yang bertingkah seperti kerbau tadi dapat kesurupan dan mengejar siapa saja yang mencoba mengambil bibit padi yang ditanam.Warga masyarakat Desa Alasmalang berusaha berebut bibit padi tersebut karena dipercaya dapat digunakan sebagai tolak-balak maupun untuk keuntungan.
Adu Kerbau (Mapasilaga Tedong) – Toraja
Adu kerbau diawali dengan kerbau bule.Partai adu kerbau diselingi dengan prosesi pemotongan kerbau ala Toraja, Ma’tinggoro tedong, yaitu menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas.Semakin sore, pesta adu kerbau semakin ramai karena yang diadu adalah kerbau jantan yang sudah memiliki pengalaman berkelahi puluhan kali.
Sebelum diadu, dilakukan parade kerbau.Ada kerbau bule atau albino, ada pula yang memiliki bercak-bercak hitam di punggung yang disebut salepo dan hitam di punggung (lontong boke).Jenis yang terakhir ini harganya paling mahal, bisa di atas Rp 100 juta. Juga terdapat kerbau jantan yang sudah dikebiri(konon cita rasa dagingnya lebih gurih).
Rambu Solo – Toraja
Rambu Solo adalah pesta atau upacara kedukaan /kematian.Bagi keluarga yang ditinggal wajib membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.
Setelah melewati serangkaian acara, si mendiang di usung menggunakan Tongkonan (sejenis rumah adat khas Toraja) menuju makam yang berada di tebing-tebing dalam goa.Nama makamnya adalah pekuburan Londa.
Yang unik dari upacara rambu solo adalah pembuatan boneka kayu yang dibuat sangat mirip dengan yang meninggal dan diletakkan di tebing.Uniknya lagi… konon katanya, wajah boneka itu kian hari kian mirip sama yang meninggal.
Pasola – Sumba
Ini adalah bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba.Setiap tahun pada bulan Februari atau Maret serangkaian upacara adat dilakukan dalam rangka memohon restu para dewa agar panen tahun tersebut berhasil dengan baik. Puncak dari serangkaian upacara adat yang dilakukan beberapa hari sebelumnya adalah apa yang disebut Pasola. Pasola adalah ‘perang-perangan’ yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda. Setiap kelompok teridiri dari lebih dari 100 pemuda bersenjakan tombak yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira 1,5 cm yang ujungnya dibiarkan tumpul.
Dugderan – Semarang
Dugderan adalah sebuah upacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang.Dugderan dilaksanakan tepat 1 hari sebelum bulan puasa.Kata Dugder diambil dari perpaduan bunyi dugdug dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian diasumsikan dengan derr.Kegiatan ini meliputi pasar rakyat yang dimulai sepekan sebelum dugderan. Karnaval yang diikuti oleh pasukan merah-putih, drumband, pasukan pakaian adat “BHINNEKA TUNGGAL IKA” , meriam , warak ngendok dan berbagai potensi kesenian yang ada di Kota Semarang. Ciri Khas acara ini adalah warak ngendok, sejenis binatang rekaan yang bertubuh kambing berkepala naga serta kulit sisik emas.Visualisasi warak ngendok dibuat dari kertas warna – warni. Acara ini dimulai dari jam 08.00 sampai dengan maghrib di hari yang sama juga diselenggarakan festival warak dan Jipin Blantenan.
Tabuik – Pariaman
Berasal dari kata ‘tabut’ dari bahasa Arab yang berarti mengarak.Upacara Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun.Upacara ini digelar di hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.
Konon, Tabuik dibawa oleh penganut Syiah dari timur tengah ke Pariaman sebagai peringatan perang Karbala.Upacara ini juga sebagai simbol dan bentuk ekspresi rasa duka yang mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad SAW.
Dua minggu menjelang pelaksanaan upacara Tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan.Mereka membuat serta aneka penganan, kue-kue khas dan Tabuik.Dalam masa ini, ada pula warga yang menjalankan ritual khusus, yakni puasa.
Pada hari yang telah ditentukan, sejak pukul 06.00, seluruh peserta dan kelengkapan upacara bersiap di alun-alun kota. Para pejabat pemerintahan pun turut hadir dalam pelaksanaan upacara paling kolosal di Sumatera Barat ini.
Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu.Bentuknya berupa binatang berbadan kuda, berkepala manusia, yang tegap dan bersayap.Oleh umat Islam, binatang ini disebut Buraq dan dianggap sebagai binatang gaib. Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya.
Satu Tabuik diangkat oleh para pemikul yang jumlahnya mencapai 40 orang.Di belakang Tabuik, rombongan orang berbusana tradisional yang membawa alat musik perkusi berupa aneka gendang, turut mengisi barisan.Sesekali arak-arakan berhenti dan puluhan orang yang memainkan silat khas Minang mulai beraksi sambil diiringi tetabuhan.
Saat matahari terbenam, arak-arakan pun berakhir.Kedua Tabuik dibawa ke pantai dan selanjutnya dilarung ke laut.Hal ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa dibuangnya Tabuik ini ke laut, dapat membuang sial.Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit, dengan membawa segala jenis arakannya.
Makepung – Bali
Makepung, yang dalam bahasa Indonesia berarti berkejar-kejaran, adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.
Tradisi ini awalnya hanyalah permainan para petani yang dilakukan di sela-sela kegiatan membajak sawah di musim panen.Kala itu, mereka saling beradu cepat dengan memacu kerbau yang dikaitkan pada sebuah gerobak dan dikendalikan oleh seorang joki.
Makin lama, kegiatan yang semula iseng itu pun berkembang dan makin diminati banyak kalangan.Kini, Makepung telah menjadi salah satu atraksi budaya yang paling menarik dan banyak ditonton oleh wisatawan termasuk para turis asing.Tak hanya itu, lomba pacu kerbau inipun telah menjadi agenda tahunan wisata di Bali dan dikelola secara profesional. Sekarang ini, Makepung tidak hanya diikuti oleh kalangan petani saja,
para pegawai dan pengusaha dari kota pun banyak yang menjadi peserta maupun suporter. Apalagi, dalam sebuah pertarungan besar, Gubernur Cup misalnya, peserta Makepung yang hadir bisa mencapai sekitar 300 pasang kerbau atau bahkan lebih. Suasana pun menjadi sangat meriah dengan hadirnya para pemusik jegog(gamelan khas Bali yang terbuat dari bambu) untuk menyemarakkan suasana lomba.
Atraksi Debus – Banten
Atraksi yang sangat berbahaya ini biasa kita kenal dengan sebutan Debus. Konon kesenian bela diri debus berasal dari daerah al Madad. Semakin lama seni bela diri ini makin berkembang dan tumbuh besar disemua kalangan masyarakat Banten sebagai seni hiburan untuk masyarakat.
Inti pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan penggunaan senjata.Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam.
Kesenian ini tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Banten. Pada awalnya kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama.Namun pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten melawan penjajahan yang dilakukan Belanda.Karena pada saat itu kekuatan sangat tidak berimbang, Belanda yang mempunyai senjata yang sangat lengkap dan canggih, terus mendesak pejuang dan rakyat banten. Satu-satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus.
Karapan Sapi – Madura
Karapan sapi merupakan perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Madura, Jawa Timur. Dalam even karapan sapi para penonton tidak hanya disuguhi adu cepat sapi dan ketangkasan para jokinya, tetapi sebelum memulai para pemilik biasanya melakukan ritual arak-arakan sapi diselingi pacuan disertai alat musik seronen (perpaduan alat musik khas Madura) sehingga membuat acara ini menjadi semakin meriah.
Panjang rute lintasan karapan sapi tersebut antara 180-200 meter, yang dapat ditempuh dalam waktu 14-18 detik.Tentu kecepatan sapi – sapi tersebut sangat cepat. Selain kelihaian joki terkadang bambu yang digunakan untuk menginjak sang joki melayang diudara karena cepatnya kecepatan sapi-sapi tersebut.
Untuk memperoleh dan menambah kecepatan laju sapi tersebut sang joki memasangi sabuk di pangkal ekor sapi yang terdapat penuh paku yang tajam dan sang joki melecutkan cambuknya yang juga diberi duri tajam kearah bokong sapi. Tentu saja luka ini akan membuat sapi berlari lebih kencang, tetapi juga menimbulkan luka disekitar pantat sapi.
Jarak pemenang terkadang selisih sangat tipis, bahkan tidak jarang hanya berjarak 1-2 detik saja.Karapan Sapi di Madura merupakan pagelaran yang sangat unik.Selain sudah diwarisi secara turun menurun tradisi ini juga terjaga sampai sekarang.Event ini dijadikan sebagai event pariwisata di Indonesia, dan tidak hanya turis lokal, dari mancanegara pun banyak yang menyaksikan karapan sapi ini.
Upacara Kasada – Bromo
Upacara Kasada bromo dilakukan oleh masyarakat Tengger yang bermukim di Gunung Bromo, Jawa Timur.Mereka melakukan ritual ini untuk mengangkat seorang Tabib atau dukun disetiap desa.Agar mereka dapat diangkat oleh para tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan menghafal mantera-mantera.
Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan sesaji-sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo. Pada malam ke 14 bulan Kasada, Masyarakat tengger berbondong-bondong dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun Sepuh yang dihormati datang, mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir Gunung Bromo.
Bagi masyarakat Tengger, peranan Dukun sangat penting.Karena mereka bertugas memimpin acara-acara ritual, perkawinan, dll.
Sebelum lulus mereka diwajibkan menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra. Setelah Upacara selesai, ongkek-ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah, lalu dilemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar.
Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya
sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah.
Ngaben – Bali
Ngaben adalah upacara pembakaran atau kremasi jenazah umat Hindu di Bali.
Dalam prosesi Ngaben, ketika api mulai disulut, perlahan-lahan kobaran api akan membesar dan mulai berkobar menyulut sosok jenazah. Lama-kelamaan kobaran api mulai menghanguskan jazadnya yang dipercaya akan melepaskan segala ikatan keduniawian dari orang yang meninggal itu. Bila ikatan keduniawian telah terlepas, maka semakin terbukalah kesempatan untuk melihat kebenaran dan keabadian kesucian Illahi di alam sana.
Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan, keluarga dari orang yang meninggal dibantu oleh masyarakat membuat "Bade" dan "Lembu" yang sangat megah yang terbuat dari kayu, kertas warna-warni dan bahan lainnya. "Bade" dan "Lembu" ini merupakan tempat jenazah yang nantinya dibakar.

M. Hanif Arzaq - X6
Share on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright GAMARAKA Media - Hak Cipta Undang-Undang.
GAMARAKA
Pusat Informasi Tentang GAMARAKA
SMA Negeri 1 Pekalongan
Jalan RA Kartini 39 Pekalongan